obyek wisata di kendal

Pantai Jomblom
keren
Pantai ini sangat mudah untuk dijangkau, karena kendaraan umum maupun pribadi sampai ke lokasi, jaraknya yang hanya 10 kilometer dari kota kendal lewat kota Cepiring, membuat siapa saja bisa mengunjungi tempat wisata ini. Berlayar, berenang dan kegiatan lain seperti permainan bola voley pantai dapat dilakukan di pantai yang landai ini. Disamping itu keindahan matahari terbit dan tenggelam dapat pula disaksikan pada pagi dan senja hari sembari menikmati kesegaran udaranya pantai.

Wisata Argo
wisata_argo
Tidak jauh dari pemandian Air Panas Gonoharjo, ada perkebunan Teh Madini yang pemandangannya juga sangat indah. Setiap hari kita dapt menyaksikan gadis-gadis desa yang cantik sedang memetik teh disamping menikmati kesejukan udara pegunungan. Perkebunan karet Marbuh dan perkebunan Kopi Sukomangli adalah daerah tujuan wisata argo lainnya. Tempat-tempat Ini sering dikunjungi wisatawan mancanegara asal jepang dan Belanda untuk bernostalgia.

Wisata

31-07-2006

Kungkum Air Panas di Nglimut Kendal

Kungkum Air Panas di Nglimut Kendal

Bandungan yang semakin sesak, tentu semua orang sudah memaklumi. Tetapi jangan khawatir, bagi mereka, khususnya masyarakat Kota Semarang yang ingin berlibur di tempat yang sejuk, ada objek alternatif lain tidak jauh dari Bandungan. Masih sekitar Gunung Ungaran, ada lokasi wisata yang tidak kalah menariknya dengan Bandungan yang makin semrawut.

SEPUTAR Gunung Ungaran ternyata memiliki potensi wisata yang sangat banyak untuk bisa dinikmati. Kita sebut saja Candi Gedong Songo (naik dari arah Bandungan), wanawisata Semirang yang memiliki air terjun, pemandian umum Siwarak, dan yang terbaru adalah Cira Asri di daerah Nglimut, Gonoharjo, Limbangan, Kendal.

Untuk bisa mencapai Nglimut, sengaja saya berangkat melalui Ambarawa. Dalam perjalanan mengelilingi Gunung Ungaran, mulai dari Ungaran – Ambarawa – Bandungan – Sumowono – Limbangan dan berakhir di Nglimut, teman-teman dalam rombongan nampak terkagum-kagum. “Ternyata, di sini ada objek wisata yang luar biasa indahnya. Selain tempatnya yang indah, fasilitas yang tersedia juga komplet. Mulai dari permainan anak-anak hingga ruang pertemuan, lesehan, pemancingan dan lainnya,” kata seorang rekan.

“Setiap liburan sekolah, bisa dipastikan saya datang ke sini mengajak cucu-cucu. Selain tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya, kami nggak perlu pergi ke Baturraden (Purwokerto) atau Guci (Kabupaten Tegal) hanya sekadar kungkum di air panas alami,” katanya lagi.

Untuk sampai ke objek wisata ini, bisa dijangkau dari beberapa jalur. Dari pertigaan Tambagan (jalur Semarang – Gunungpati – Cangkiran), lokasi pemandian air panas ini bisa ditempuh dalam waktu sekitar 15-20 menit. Dari Semarang jangkauannya tak lebih dari satu jam perjalanan. Rutenya Semarang – Mijen – Cangkiran – Ngabean – Gonoharjo. Bisa juga lewat Bandungan – Sumowono – Limbangan – Gonoharjo. Di persimpangan Cangkiran untuk mengakses ke Bandungan melewati Boja, Limbangan – Sumowono – Bandungan. Jarak tempuh tak lebih dari 12 km dari Cangkiran atau sekitar 15 menit perjalanan dengan motor (mobil)

Bagi warga perkotaan, wisata pegunungan memang menjadi salah satu tempat favorit mengisi liburan bersama keluarga. Untuk pergi ke Nglimut, sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Karena di lokasi yang memiliki ketinggian sekitar 300 – 400 meter di atas permukaan laut, selain udaranya segar, anginnya semilir. Jika datang pagi, saat sampai di lokasi, sinar mentari akan menghangatkan tubuh. Selain itu bisa menyaksikan pemandangan alam dari atas bukit. Jam buka pukul 07.00 hingga 16.00.

Salah satu unggulan yang ditawarkan adalah pemandian air panas. Di tempat ini pengunjung bisa kungkum di kolam, atau mandi di kamar mandi yang tertata rapi. Sebagai salah satu objek wisata yang belum banyak dikenal, wisata pegunungan yang ditawarkan masih sangat alami. Suasananya tenang, belum sumpek dan sesak seperti di Bandungan. Sangat tepat untuk beristirahat bagi warga perkotaan yang lelah oleh kesibukan dan kebisingan. Bahkan daerah ini juga baik untuk wisata spiritual, wisata semedi, seperti yang berkembang pesat di Bali saat ini.

Makin Lengkap

Menurut beberapa pengunjung. objek wisata ini terus dikembangkan. Bagi mereka yang ingin rileks bersama keluarga, tersedia pemancingan, kafe, kebun binatang mini, taman bunga, kolam renang air panas, kolam renang air dingin, camping ground, arena bermain anak-anak dan lainnya.

Sementara bagi mereka yang suka bertualang, tentu lain lagi tawarannya. Misalnya mendaki ke arah puncak Ungaran untuk melihat Goa Jepang, juga bisa berkemah di sela-sela pohon aren dan tumbuhan lain.

Bagi pengunjung yang ingin menyendiri, maka di kompleks wisata inilah tempatnya. Selain ada pondok bengong, juga ada rumah jineng (lumbung) khas Bali. Rumah panggung berlantai dua itu didatangkan dari Bali. Fasilitas penginapan ini bisa disewa. Lantai bawah untuk ruang keluarga, sementara lantai atas bisa digunakan untuk ruang meditasi.

Manajer Citra Asri, Siswanto, didampingi koordinator lapangan Basuki menyebutkan, tempat itu memang masih dalam pengembangan. Seperti untuk penginapan rumah tradisional, kini baru ada dua buah, yakni satu rumah jineng dan satu lagi rumah khas Kendal. Rencananya akan terus ditambah. Bagi tamu yang ingin bermalam di sini, penginapan (hotel) juga sudah ada.

Konsep mengembangkan sebuah tempat rekreasi tentu mempertimbangkan berbagai aspek (kultur masyarakat, lingkungan (alam) sekitar objek. Lokasi Citra Asri ini sebenarnya tak berdiri sendiri. Ini merupakan salah simpul wisata yang mestinya bisa lebih terintegrasi dengan pengembangan objek lainnya. Misal ditawarkan secara paket dengan Bandungan atau Candi Gedong Songo yang memang lebih dulu dikenal masyarakat.

Saya membayangkan kawasan Gonoharjo nantinya akan menjadi objek wisata seperti di Bali, di lereng gunung Batukaru atau di lembah-lembah bukit Barisan di sana Sumatera Barat. Saya pun kemudian teringat dengan Michael, wisatawan dari Eropa yang hampir satu minggu berada di salah satu “pondok” di Desa Wongaya Gede, Tabanan, Bali. Vegetarian itu datang dengan rombongannya untuk melakukan “pencarian”. Vila yang dia tempati berada di tengah-tengah kebun cokelat yang rimbun di sebuah lereng.

“Mister” demikian dia bisa dipanggil warga desa, sepertinya tak terusik isu bom dan cacar air yang mengguncang “sorga” wisatanya dunia itu. Selama berada di sana, dia tidak hanya menikmati alam, bahkan caping petani yang sudah sobek-sobek dan hitam karena terkena asap menarik perhatiannya. Petani membajak sawah, petani mencari kakul (keong sawah), belut dan lainnya pun dinikmatinya. Berlama-lama tinggal di sawah, ngobrol dengan warga yang lewat. Akrab sekali.

Sesekali dia juga minta diantar untuk melakukan tracking atau lintas alam, dengan menelusuri pematang sawah, kebun kopi, kebun cokelat yang jauhnya beberapa kilometer. Bahkan tak jarang dengan sepeda gunung mereka melintasi ruas-ruas jalan desa dan jalan setapak di sekitar perkebunan.

Gonoharjo khususnya dan Gunung Ungaran pada umumnya, juga memberikan hal serupa. Kini tinggal bagaimana Pemkab Semarang dan Kendal menawarkan potensi alamnya kepada wisatawan mancanegara. Tentu dengan melakukan pembangunan di semua sisi, baik menyangkut objek maupun sektor pendukung, termasuk kesiapan masyarakat dan pelaku pariwisata. (Segara Seni-13)

***

Taman Safari Ada di Bantir

GUNUNGUngaran menyimpan berbagai potensi. Dari dalam tanah, airnya bukan hanya untuk mengairi pertanian sawah di lerengnya, tetapi juga diambil untuk suplai air minum penduduk kota bawah. Malahan beberapa perusahaan minuman, baik air mineral maupun soft drink, didirikan di lereng Ungaran, dengan bahan baku air dari gunung tersebut. Hasil pertanian, seperti sayuran, buah-buahan sampai bunga, juga banyak dihasilkan dari potensi tanah gunung Ungaran.

Sementara keindahan alamnya memberi janji untuk dikembangkan menjadi objek wisata yang menarik. Jika dihitung, sampai sekarang sudah ada lebih dari lima objek yang dikenal masyarakat sebagai tempat tujuan rekreasi.

Dilihat dari objek wisata yang sudah ada, ini jelas sudah masuk jaring-jaring yang bisa dikembangkan. Mengapa harus dikembangkan? Ya, pemerintah daerah Kabupaten Semarang dan Kendal yang “memiliki” gunung tersebut perlu lebih bekerja keras untuk menggali potensi wisata di daerah itu. Agar tempat yang indah ini menjadi tujuan mereka yang butuh rekreasi, setelah sepekan berkutat dengan segala pekerjaan dan aktivitas. Bahkan jika tak mampu mendanai sendiri, pemda perlu melibatkan investor untuk membiayai proyek pengembangan objek wisata yang sudah ada.

Bali

Membenahi objek wisata agar menjadi tujuan rekreasi yang menarik tentu keinginan pemda setempat. Tidak perlu menyaingi Jakarta atau Bali yang memang dikenal dunia sebagai surga wisata. Tetapi upaya sungguh-sungguh menghidupkan dunia pariwisata, sudah menjadi kewajiban pemda, agar kotanya lebih dikenal minimal di tanah air.

Seperti kata almarhum Menteri Penerangan Boedihardjo, jangan menyamakan kawasan wisata, terutama di Jateng dengan Bali. Pria yang pernah menjadi pengelola Taman Wisata Candi Borobudur itu mengatakan, wisata di Jawa memang harus dibangun dan dibenahi secara inten. Menurut dia, Bali sepertinya diciptakan Tuhan untuk dikenal dunia sebagai tempat wisata yang menarik. Pulau itu memiliki keindahan alam, kebudayaan yang bernilai tinggi, kultur masyarakat yang mendukung. Pemerintah daerah cukup membangun akses jalan, sebagai sarana mendukung dunia pariwisata yang memang sudah hidup tersebut.

“Modal budaya yang dimiliki masyarakat Bali, membuat industri pariwisata di sana tidak perlu lagi membangun objek. Cukup fasilitasnya, pariwisata sudah memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Anehnya, meski budaya yang ada menarik minat wisatawan untuk datang, orang Bali sendiri dalam menciptakannya, baik yang berhubungan dengan aspek religi maupun kreasi seninya, menganggap sebagai kegiatan yang harus dilakukan. Tak pernah berangan-angan itu akan disukai wisatawan atau tidak, mereka tetap melakukan aktivitas tersebut sebagai suatu keharusan yang mesti dilaksanakan. Pura, tetabuhan, seni tari dan sebagainya sudah tercipta sebagai seni. Mereka tak pernah menghitung, misalnya membangun pura di lokasi yang memiliki pemandangan alam yang indah. Misalnya Pura Tanah Lot yang didirikan di atas karang di tengah laut, ternyata kini menjadi salah satu tujuan wisatawan, karena tempatnya yang unik menjorok ke tengah laut.

Sementara tempat selain Bali, jika ingin dikenal dan menjadi tempat kunjungan wisata, pemda maupun pihak investor harus berani membangun dan menyediakan fasilitas yang baik.

Membangun Semuanya

Untuk bisa menarik jumlah wisatawan, tentu jadi obsesi tiap pemda. Syarat utamanya adalah membangun semuanya. Baik akses jalan maupun objek wisata itu sendiri. Gunung Ungaran yang memiliki keindahan alam tersebut, memerlukan campur tangan berbagai pihak, pemerintah daerah serta mungkin pihak swasta untuk mengembangkannya.

Seperti rencana pembangunan Taman Safari Madupari Indonesia (TSMI) di daerah Bantir (Sumowono) yang kabarnya dibangun oleh investor swasta, perlu mendapat dukungan semua pihak, terutama dari pemda. Kalau rencana tersebut bisa terwujud, maka itu menjadi salah satu kebanggaan warga Jateng. Bayangkan Provinsi Jabar dan Jawa Timur telah memiliki lahan berkembangnya hewan dan areal pertanian dengan sebutan “Taman Safari”. Maka rencana pembangunan di Bantir, perlu mendapat dukungan agar secepatnya selesai, dan bisa menjadi tempat rekreasi tidak saja warga Jateng, tapi bisa dari luar propinsi ini.

Hal ini karena wilayah tersebut memiliki spesifikasi yang bagus. Mengapa? Dengan areal di lereng menghadap timur, tentu sinar matahari pagi bisa memancar ke sana. Ini sangat baik untuk pertumbuhan tanaman maupun hewan.

Selain itu areal calon TSMI berdekatan dengan Candi Gedong Songo yang sudah terkenal. Sehingga mereka yang datang, selain menyaksikan bangunan peninggalan sejarah, sekaligus menyaksikan hewan yang dibiarkan hidup tanpa kerangkeng.

Objek dalam satu jaringan (kompleks) tentu memberi kemudahan bagi pengunjung. Bahkan di Sumowono, juga ada gua dan air terjun Burgangso yang belum tersentuh.

Selain itu, wanawisata Semirang yang terletak di Desa Gogik, menjadi alternatif lain.

Tempat yang ada di lereng gunung Ungaran ini mempunyai suasana yang sejuk, pemandangan indah menuju kawasan Kota Ungaran. Selain itu di sana masih ada air terjun. Nah untuk menuju grojogan Semirang, pengunjung akan dibawa menelusuri hutan, kebun kopi, pala di kanan kirinya. Di sini juga ada Cagar Alam Suroloyo di kawasan hutan lindung yang dikelola Perhutani.

Gerakan Seribu Buku Menyentuh Kendal

gerakan seribu buku

Loenpia.net adalah salah satu dari komunitas yang mendapat mandat untuk turut membagikan buku dari kegiatan Gerakan Seribu Buku yang diprakarsai oleh BHI. Setelah minggu sebelumnya buku-buku yang terkumpul untuk area dan semarang telah dipilah-pilah dan disortir, maka dimulailah sesi pembagian.

Hari sabtu kemarin (10-01-2009) kamu meluncur. Pasukan yang turut serta adalah saya, Pepeng, Dendi, Munif, dan Teguh. Daerah Kendal adalah salah satu tujuan kami. Kenapa? Karena penulis 4 tahun yang lalu menghabiskan waktu 35 hari di sana dalam rangka kegiatan KKN dari kampus. Target kami adalah SD Pidodowetan 02, terletak di desa Pidodowetan, kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal. Untuk melewati rute yang lebih mudah dijangkau, kami menempuh jalan memutar melalui daerah Cepiring. Setekah kira-kira sejam lebih perjalanan, akhirnya sampailah kami di sana.

Sarana dan prasarana di sana sangatlah minim. Betapa tidak, di area yang tidak luas dan jumlah kelas yang masih bisa dihitung dengan jari, berdiri bangunan tua yang reot dan hampir roboh, meja kursi yang tua, dan bocor senantiasa. Perpustakaan-nya? waduh boro-boro.. engga ada! Namun semangat belajar masih kuat terpancar dari semangat mereka mengikuti pelajaran ketika saya dulu menjadi guru gadungan di daerah sana. Saya masih ingat betul tiap kali memanggil murid untuk maju ke depan, maka akan terdengar bunyi kecipak.. kecipak.. karena memang lantai perpaduan antara ubin tua dan tanah itu selalu terendam air. :D

Sepanjang perjalanan, saya tak henti berharap semoga SD itu masih ada, jangan-jangan sudah roboh atau dibubarkan. Ternyata harapan saya terkabul. SD tersebut masih tetap eksis sampai sekarang, walaupun tahun sebelumnya terancam dibubarkan karena kekurangan murid dan dana. Bahkan sekarang sebagian bangunan SD telah diperbaiki dan diberi lantai keramik!! Yeay!!! Jumlah total murid di SD Pidodowetan tahun ini adalah 51 orang, dan tahun ini tidak ada kelas 2-nya :D

gerakan seribu buku

Di sana kami bertemu hanya dengan penjaga sekolah karena ternyata SD masih libur. Kemudian kami diajak untuk bertemu dengan Bapak Ma’aruf, ketua komite SD tersebut. Melalui bapak Ma’aruf kami disambungkan via telepon dengan Ibu Heri Sukaesih kepala sekolah yang menjabat sekarang (eh btw, sekarang nelpon di sini udah lancaaarr! 4 tahun lalu mesti keliling dulu cari spot yang ada sinyalnya :D ). Kepada dua pihak tersebut kami menjelaskan maksud dah tujuan kedatangan kami. Merekapun menyambut dengan antusias dan sangat berterima kasih, walaupun sumbangan buku yang kami bawa tidak seberapa. Akhirnya buku kami serahkan melalui Pak Ma’aruf. Kebetulan sekolah ini juga akan mendirikan perpustakaan dalam waktu dekat, berkat adanya bantuan dari BOS. Jadi nanti buku dari Gerakan Seribu Buku ini akan menjadi salah satu penghuni pertama di perpustakaan SD Pidodowetan 02 ini.

gerakan seribu buku

Yap, misipun selesai. Selanjutnya saya bernostalgia sebentar mengunjungi rumah almarhum Pak Kades tempat saya menumpang hidup dulu semasa KKN. Tak lupa juga sekalian mengunjungi objek wisata setempat yang bernama Pantai Muara Kencan, serta menikmati santapan makan siang di pinggir pantai. Kami ucapkan terima kasih kepada penyumbang dan semua pihak yang telah membantu dalam Gerakan Seribu Buku ini. Semoga kita bisa menyumbang barang setetes pada lautan pendidikan Indonesia sehingga tiap anak bangsa Indonesia ini akan semakin maju dan terbuka wawasannya. Amiiinn.. :)

Free Hot Spot, Agro Wisata Tirto Arum Baru

Agro Wisata Tirto Arum Baru, sebagai salah satu perintis dan pengembang obyek wisata Agro Wisata di Kabupaten Kendal, yang dikemas apik dan diramu indah bersama dengan penyediaan sarana :
1. Penginapan,
2. Out Bound,
3. Kolam Renang,
4. Arena bermain anak,
5. Kolam Lumpur,
6. Tempat makan,
7. Kolam pemancingan;
8. Lapangan tennis
9. Sarana Flying Fox ,dan;
10. Taman refleksi.

Ternyata ada satu fasilitas baru yang ditawarkan bagi para pelanggan Agro Wisata Tirto Arum Baru, yakni bagi mereka yang memiliki kesibukan dan kebutuhan akan koneksi global melalui jaringan internet, maka Agro Wisata Tirto Arum Baru menawarkan fasilitas Free Hot Spot.
Fasilitas yang memang baru saja diluncurkan ini belum banyak diketahui dan dimanfaatkan oleh para pengunjun, dan tentu saja hal ini hanya berlaku bagi mereka yang menikmati fasilitas yang ada di dalamnya.

Fasilitas ini dapat diakses bagi para pengunjunga yang ingin memanfaatkan Agro Wisata Tirto Arum Baru sebagai tempat pertemuan bisnis maupun rekreasi tanpa harus meninggalkan kebutuhannya akan informasi dan transaksi lain yang dapat dilakukan dengan fasilitas internet.
Agro Wisata yang menawarkan konsep keselarasan antara alam lingkungan pedesaan yang asri, sejuk dan nyaman dibalut dengan jalinan kreatifitas pengelolaan yang menawarkan kemandirian dan kesederhanaan dalam nuansa tradisi dan kemewahan.

Dengan lokasi yang berjarak 1 km arah Barat Kota kendal dan berada tepat disisi jalur Pantai Utara Pulau Jawa (Pantura) Agro Wisata Tirto Arum Baru menawarkan konsep Oase di jalur Pantura. Sehingga bagi mereka yang ingin menikmati peristirahan dalam perjalanan panjangnya, Agro Wisata Tirto Arum Baru adalah sebuah pilihan yang bijaksana.

Untuk informasi dan reservasi hubungi :
Agro Wisata Tirto Arum Baru
Jl. Soekarno Hatta Km 2,7 Kendal
Telp. 0294 381858
Fax . 0294 381411
Email : tirto_arum_baru@yahoo.co.id

http://www.tirtoarumkendal.co.cc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s